jump to navigation

TES 1 Agustus 31, 2010

Posted by lensamata in Uncategorized.
add a comment

Kalau harga kertas sudah naik, penerbit pasti lebih selektif pilih naskah khan? Artinya, penerbit pasti cuma mau nerbitin buku yang bestseller atau memiliki value lain. Nah repotnya, kalau kita bukan golongan pencipta buku bestseller, apa yang harus kita lakukan? Jangan bebani penerbit lagi dengan tindakan-tindakan yang biasa-biasa saja deh. Kasihan, mereka kan harus promosi dan gontok-gontokan juga di toko buku.

Harga Kertas Naik!!! Apa yang Harus Penulis Lakukan? April 15, 2008

Posted by lensamata in Hanya Ide Kecil.
add a comment

Harga kertas naik gila-gilaan nih. Menurut situs www.pena.co.id, mulai tanggal 1 April 2008, harga kertas mengalami kenaikan hingga 800 dollar AS per ton. Itu artinya, naik 18,5% dibanding harga semula yang dipatok pada bulan Januari 2008, yaitu sebesar 675 dollar AS.

Kalau harga kertas sudah naik, penerbit pasti lebih selektif pilih naskah khan? Artinya, penerbit pasti cuma mau nerbitin buku yang bestseller atau memiliki value lain. Nah repotnya, kalau kita bukan golongan pencipta buku bestseller, apa yang harus kita lakukan? Jangan bebani penerbit lagi dengan tindakan-tindakan yang biasa-biasa saja deh. Kasihan, mereka kan harus promosi dan gontok-gontokan juga di toko buku.

Lantas? Kalau sudah begini, sebagai penulis, Anda semua harus melakukan tindakan yang di luar kebiasaan. Apa saja itu? Berikut saran dari saya:

  1. Bikin bukunya tipis saja. Kalau bukunya tipis, biaya produksinya pasti murah. Kalau biaya produksi murah, harga jualnya pasti juga murah. Pembeli senang. Kalau perlu, supaya lebih tipis, gunakan bahasa SMS. Misalnya seperti ini, “mnurut analsa sy,eknomi th’09 bakl suram.suer.bls.thx.” Anda tahu khan maksud saya?
  2. Jangan banyak memasukkan gambar atau foto di dalam buku. Kalau Anda penulis buku teknik atau TI, pasti akan sangat sering memasang foto atau gambar, bukan? Nah, gambar atau foto akan memakan space halaman yang artinya, semakin banyak gambar/foto = semakin tebal bukunya. Alternatifnya, foto atau gambar itu Anda upload di website saja. Nanti di buku ditulis, “lihat gambar 1 di www.flickr.com/fjdshtkewhtuewhrweurhwier untuk referensinya”.
  3. Tidak perlu nulis kata pengantar. Bagian kata pengantar biasanya jarang atau malah tidak pernah dibaca oleh pembeli buku. Apalagi kalau Anda nggak ngetop babar blas….Jadi, daripada membuang berkilo-kilo kertas untuk kata pengantar, mending bagian ini dibuang saja.
  4.  Tidak perlu bertele-tele. Pembahasan yang bertele-tele akan memakan banyak sekali halaman. Jadi tulis saja yang singkat kemudian ketik seperti ini, “Apakah Anda sudah tahu maksud saya? Kalau belum, coba tanyakan ke orang lain yang lebih tahu. Kalau sudah, Anda tidak perlu membaca bab berikutnya karena buku ini cuma 1 bab saja”.

 

Yang penting, save our planet with “tipis” book. Semakin tipis, pasti semakin oke. Kalau bukunya tipis, khan bisa dimasukkan ke saku. Siapa tahu, si pembaca akan membacanya di kereta api atau mall. Khan, buku Anda jadi tambah ngetop, bukan?

Untung Suropati ingin Bikin Password April 11, 2008

Posted by lensamata in Situs Uniq.
add a comment

Temen saya, Untung Suropati, ingin bikin password biar bisa mejeng di Friendster. Ia suka Burung Perkutut dan lahir di bulan 8, tanggal 10 tahun 1970. Kira-kira password apa yang pas buat Mas Untung ini ya…?

Nggak perlu bingung. Sekarang khan ada Password Bird (www.passwordbird.com). Situs ini fungsinya untuk menciptakan password yang unik hanya dengan meminta Anda memasukkan nama, kata kunci, dan tanggal lahir. Begitu Anda tekan tombol “Create Password!”…gotcha! Anda akan melihat password yang bisa Anda pakai. Lumayan kok hasilnya…Bisa jadi, password buat Mas Untung adalah: ut19tung.

Tapi kalau hasilnya lucu, ngenyek, atau bikin kepingkal-pingkal, jangan pada emosi ya…namanya juga layanan gratisan. Mesti harus sabar makainya!

Ngamen…! April 11, 2008

Posted by lensamata in Hanya Ide Kecil.
add a comment

Acapkali, kita harus ngamen. Lho, penulis kok disuruh ngamen. Ini serius lho, nggak main-main. Penulis emang kadang kala harus ngamen kalau pingin bukunya laku. Nggak percaya? Inget dulu Moammar Emka saat harus keluar masuk toko buku untuk talkshow, seminar, mini seminar, jumpa penulis, jumpa darat, atau apa itu namanya…Itu khan sama saja ngamen to!

Bedanya, waktu jualan Jakarta Undercover yang konon menghasilkan royalti sampai 1M itu, Moammar gak nyanyi. Dia cuman ngomong. Tapi pada intinya, dia harus buka mulut biar orang pada mau beli bukunya. Ia harus mau tarik suara agar orang mau memasukkan duit ke dompetnya. Jadi bedanya, pengamen sama penulis itu tidak banyak. Kadang kala, pengamen melengkingkan suaranya. Penulis pun demikian. Kadang kala, pengamen sampai nangis-nangis buat penghayatan. Penulis pun begitu kalau pingin mancing emosi yang mendengarkan ceritanya.

Kembali ke ngamen tadi. Penulis saat ini harus berani ngamen. Ngamen merupakan satu-satunya cara agar si penulis itu muncul di depan publik dan toko buku mau meletakkan buku tersebut di tempat yang terhormat (di rak Bestseller). Bukan rahasia lagi kalau toko buku kerap meretur buku-buku penulis gak ngetop hanya dalam jangka 2 minggu saja sejak buku itu ditulis. Apa sulit ngamen itu? Tidak kok. Toko buku senang kalau ada penulis ngamen karena berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan. Ingat, penulis yang nggak ngetop pun juga punya pasukan lho (keluarga, teman, rekan kerja, sahabat kecil, dll). Penerbit pun senang karena tidak perlu keluar uang untuk pasang iklan di koran tentang buku yang akan diterbitkannya itu karena penulis bisa dusuruh jadi Public Relation untuk bukunya sendiri. Bagaimana dengan honor penulis yang terpaksa ngamen itu? Jangan tanya deh…baik toko buku maupun penerbit nggak bakal kasih honor. Paling-paling cuma snack 1 bungkus dan tepuk tangan meriah.

Lho kok nggak dibayar? Lha kita kan sama-sama berjuang agar buku itu laku, mas. Kalau buku itu laku, khan panjenengan juga yang seneng…begitu kilah penerbit. Kalau kita nodong toko buku, mereka kerap sewot. Lha sudah dikasih tempat gratis, kok minta bayar. Emang situ mau bayarin rekening listrik sama gaji pegawai saya po?

Jadi…kalau mau jadi penulis, jangan ragu untuk ngamen. Mumpung ada banyak pihak yang mau menampilkan Anda di muka umum lho? Jarang-jarang ada yang baik kayak gini…smile_wink

Buat Penulis yang Suka Sakit Mata April 11, 2008

Posted by lensamata in Situs Uniq.
add a comment

Anda ngaku penulis…? Kalau iya, maka bisa jadi warna putih membuat Anda begitu terganggu, terutama yang memiliki mata bermasalah, seperti mudah pedih atau mudah silau. Mengapa warna putih? Pada dasarnya, kertas memang berwarna putih. Begitu pun lembar dokumen di MS Word yang juga berwarna putih. Walaupun tingkat cahaya (Brightness) pada layar monitor bisa diturunkan agar warna lembar dokumen MS Word tidak terlalu putih, tetap saja rasa ketidaknyamanan menyergap kita sewaktu-waktu.

Lantas? Kalau sudah begini, Anda butuh text editor yang tidak bikin sakit mata. Mau salah satu contohnya? Mengapa tidak coba DarkCopy (http://darkcopy.com/). Beda dengan lainnya, DarkCopy ini justru menghitamkan seluruh lembar dokumennya. Tulisannya…? Untuk tulisannya, Anda akan melihat warna hijau. Jadi, hijau dilapisi warna hitam.

Setelah Anda selesai menulisnya, Anda bisa menyimpan yang Anda tulis itu ke dalam file. Formatnya .TXT. Jadi, Anda bisa mengeditnya kapan-kapan pakai Notepad atau MS Word biasa.

Handycam Paling Canggih Adalah JVC HD7 April 10, 2008

Posted by lensamata in Teknologi Unik.
2 comments

Gini…sudah tahu belum kalau Februari tahun lalu (2007), JVC mengeluarkan handycam HD7. Mengapa dibilang paling canggih? Saya sebenarnya sok tahu. Tapi percayalah, kalau Anda sudah membelinya (saya sudah), maka Anda bisa bikin film yang mungkin baru bisa dinikmati banyak orang 2-3 tahun lagi. Lha kenapa?

Masalahnya, JVC HD7 ini mampu menelurkan kualitas tayang FullHD, alias beresolusi tinggi sebesar 1920×1080. Dengan resolusi seperti ini, hanya TV FullHD saja yang bisa menayangkan ketajaman dan detail kamera buatan Victory Company of Japan ini. Mau tahu salah satunya…sebut saja TV Aquos buatan Sharp.

Handycam ini memang tidak terlihat memiliki efek ketajaman yang berarti kalau Anda menyetelnya menggunakan TV tabung (CRT) biasa atau menggunakan TV gepeng tapi belum FullHD (ingat, tidak semua TV gepeng itu adalah TV FullHD). Kalau Anda nekad, paling-paling cuma dapat tayangan sekualitas DVD. Lain ceritanya kalau Anda tonton menggunakan layar monitor beresolusi 1920×1080 seperti yang saya punyai saat ini, Viewsonic VG1930wm.

Canggihnya lagi, handycam ini menggunakan media rekam Hard Disk (HDD) sebesar 60 Gb. Kenapa dibilang canggih? Ada asumsi yang mengatakan kalau handycam HDD pasti resolusinya rendah atau maksimal hanya 640×480. Ternyata asumsi ini keliru karena ketajaman yang diperoleh JVC HD7 jauh di atas angka tersebut. Dengan HDD 60 Gb, berarti Anda bisa jadi sutradara untuk film berdurasi maksimal 5 jam untuk kualitas tinggi.

Harganya berkisar antara Rp. 14 juta sampai Rp. 16 juta (tergantung belinya dimana dan negonya kencengnya sampai dimana). Tapi dengan harga segitu, hasilnya sangat sepadan. Handycam ini dilengkapi software built-in bernama Cyberlink BD Solution khusus untuk JVC HD7. Jadi, Anda bisa transfer dan edit film berkualitas tinggi tanpa harus kehilangan resolusi. Modalnya apa? Cukup kabel USB 2.0 yang dibawakan oleh JVC HD7 ini. Jadi nggak perlu pakai capture card atau firewire segala. Praktis to?

Tapi sayangnya, JVC HD7 ini gampang panas. Panasnya nggak tanggung-tanggung…menyengat! Jadi saran saya, kalau shooting jangan 5 jam non stop. Nanti kepanasan sendiri. Lagipula, kalau 5 jam non stop, memindahkan filenya sangat lama dan bisa jadi, hang di tengah jalan. Oleh karena itu, maksimal shoot-lah adegan di depan Anda dalam 2 menit. Matikan. Dan, lanjutkan lagi.

Penasaran? Beli aja. Nanti banyak yang nglirik kok!

Agar Penerbitan Tidak Mati Konyol April 10, 2008

Posted by lensamata in Hanya Ide Kecil.
add a comment

Kemarin saya baru curhat-curhatan sama seorang pemilik bisnis penerbitan di sebuah kota. Nggak perlu saya kasih tahu kota mana ia tinggal, nanti ia malu. Tapi yang lebih memalukan adalah sebuah fakta bahwa ia dipermalukan oleh toko buku. Bingung kan?

Begini ceritanya. Saat ini, toko buku manapun (mungkin kecuali Karisma atau toko buku-toko buku kecil) dalam kondisi overload. Artinya, jumlah buku sangat banyak sementara daya beli masyarakat ya itu-itu saja. Lantas apa yang terjadi? Yang terjadi adalah, sebuah buku tidak bisa bertahan lama-lama di rak toko buku. Jika buku itu nggak laku, ya langsung di-retur agar toko buku punya rak kosong lagi untuk menampung buku-buku yang baru saja datang. Apa artinya? Dalam bahasa kita, turn over sebuah buku sangat cepat.

Kalau dulu buku bisa bertengger sampai 4 bulan sampai toko buku mereturnya, sekarang paling-paling 2 minggu saja. Kalau pihak toko buku  melihat bahwa dalam jangka waktu 2 minggu tidak ada pergerakan penjualan yang signifikan, ya mau gimana lagi…buku itu harus diretur.

Kebetulan nasib teman saya seperti itu. Bukunya nggak jalan dan harus dibalikin semua. Gigit jari memang iya, tapi keadaan sekarang juga sangat memaksa.

Lha kalau penerbit itu punya modal gede, nggak masalah. Penerbit itu bisa menunggu nasib baik dari toko-toko lain yang bisa jadi memberi laporan menguntungkan sembari penerbit tersebut memproduksi naskah-naskah berikutnya. Tapi pas kebetulan, teman saya itu masih penerbit UKM alias Usaha Kecil Mungil. Tahu bukunya didepak, yang jadi malah stress saja. Inilah repotnya buka usaha penerbitan jaman sekarang. Kalau modalnya kecil dan bukunya biasa-biasa saja, nasibnya tinggal bisa dihitung hari.

Oleh karena itu, saran saya adalah sebagai berikut:

  1. Jangan latah. Kumpulkan modal dulu. Jangan terus kalau orang lain bikin penerbitan, kita terus-terusan panas dan ikut menjajalnya. Tanpa modal besar (plus modal nyali), mengatur duit sama energinya akan sangat kelabakan.
  2. Kalau sudah punya modal besar, buat banyak buku secara serentak. Maksudnya, supaya ada dominasi di rak-rak toko buku dan dilirik oleh pembeli dan juga pihak toko buku. Tahu maksud saya? Bisa bayangkan, bagaimana kalau kita cuma punya 1 buku saja di antara ribuan buku lain yang mengepung? Boro-boro buku kita dibeli. Dilihat saja mungkin sudah untung.
  3. Bikin buku kontroversi terus di-talk show-kan. Tapi kalau modal kita mepet terus bagaimana? Ya sudah, bikin saja buku kontroversi kemudian di-talk show-kan di toko buku. Toko buku manapun pasti senang kalau kita bikin talk show karena memancing orang untuk datang. Dan yang pasti, toko buku nggak bakalan keluar duit. Dengan men-talk show-kan, buku kita bisa dipajang di daftar bestseller walaupun cuman 1 biji!

Tertarik bikin buku kontroversi tapi takut resikonya? Gampang kok. Bikin buku kontroversi tidak harus berbau politik atau agama. Hal-hal sepele juga bisa dikontroversikan. Misalnya saja, buat buku judulnya, “Ternyata Kucing adalah Mahluk Alien”, “Budidaya Ikan Paus”, “Siapa Bilang Jadi Penulis itu Kaya”, “Sudah Saatnya Bangun PLTN di Jakarta”, dan lain sebagainya. Tertarik?

Kisah Jack si Pemberani Mei 4, 2007

Posted by lensamata in sinopsis buku.
5 comments

Judul : Bloody Jack
Pengarang : LA Meyer
Penerbit : Little Serambi

Buku ini seru! Seperti membaca petualangan Huckleberry Finn sekaligus Robinson Crusoe. Bahasanya juga relatif ringan dan mudah dimengerti. Buku ini menceritakan petualangan seorang anak perempuan, dari ia berumur 8 tahun sampai ia menjadi seorang gadis remaja berumur 15 tahun.

Mary atau Jacky Faber, adalah seorang anak perempuan yang kehilangan kedua orang tua dan adiknya pada umur 8 tahun. Terkatung-katung di “rimba” kota London, yang sangat berbahaya bagi seorang anak seumurnya. Apalagi tanpa perlindungan dari orang dewasa. Cerita dimulai pada tahun 1797, ketika ayah Mary meninggal karena wabah penyakit misterius yang menjangkit London. Seketika hidupnya berubah, terutama ketika ibu dan adiknya pun meninggalkannya.

Ia pun berjumpa dengan Charlie “Rooster” Brewster, kepala geng anak jalanan, dan kelompoknya. Mary pun bergabung. Ia diajari mengemis, mengamen, dan juga mencuri! Semua itu dilakukan agar mereka semua dapat bertahan hidup.

Tapi suatu hal terjadi, membuat Mary harus meninggalkan teman-teman anak jalanannya itu. Karena ia sendirian dan ia anak perempuan, maka ia memutuskan untuk menjadi “anak lelaki”. Berat bagi Mary yang sudah 5 tahun bersama mereka, untuk meninggalkan kelompoknya itu. Tapi Mary menemukan satu hal, bahwa menjadi anak lelaki itu membuat hidupnya menjadi lebih mudah!

Nasib pun membawa Mary ke sebuah kapal yang akan membawanya melintasi Samudera. Karena ia “anak lelaki” dan ia lebih berpendidikan dibandingkan anak lelaki yang lain, maka ia diterima. Namanya bukan Mary lagi, tapi Jacky. Jack “Jacky” Faber.

Maka sejak itu dimulailah petualangan Jack Faber menjadi pesuruh kapal “HMS Dolphin” milik Kerajaan Inggris.

Sang Penyihir Beraksi Mei 4, 2007

Posted by lensamata in sinopsis buku.
add a comment

Judul Asli: Wizard at Work
Penulis: Vivian Vande Velde
Penerjemah: Evi Sofiawati
Little Serambi, Cet 1, Desember 2006, Jakarta, 180 halaman
ISBN 979-1112-06-
1
Rp 19.900,00

Satu-satunya karya Vivian Vande Velde yang pernah saya baca adalah buku fiksi remaja “Jangan Percaya pada Orang Mati” (judul asli: “Never Trust a Dead Man”) yang diterbitkan Grasindo di tahun 2003. Buku itu menggabungkan unsur cerita fantasi dan detektif dengan apik. Cuma sayangnya dahulu sampulnya tidak menarik ditambah penerjemahannya kurang mulus. Sekarang Little Serambi memutuskan untuk menerbitkan karya Velde yang lain, kali ini untuk pembaca yang lebih muda, “Sang Penyihir Beraksi”, dan untungnya tidak ada masalah mengenai desain sampul ataupun penerjemahan.

Seorang penyihir muda bekerja sebagai pengajar di sekolah sihir. Ketika libur, sebenarnya ia hanyalah seorang yang ingin bersantai di pondoknya, memancing, dan berkebun. Tetapi orang-orang dari berbagai negeri datang mengganggunya untuk meminta bantuan. Ada putri yang minta dibebaskan dari kurungan ibu tiri dan saudara tiri kejam. Ada kota yang diganggu sekelompok kuda bercula satu (=unicorn?). Ada Pangeran ingin menyelamatkan putri yang diculik naga. Ada seorang bangsawan yang diganggu hantu. Dan ada Raja dan Ratu yang ingin putrinya cantik dan menarik. Di akhir cerita, sang Penyihir menemukan kejutan untuk dirinya sendiri.

Yang membuat buku ini menarik adalah unsur-unsur dongeng (barat) yang banyak dipelintir. Ada bagian yang menceritakan tentang putri cantik yang (katanya) dikurung oleh ibu tiri kejam dan saudara tiri buruk rupa, rupanya kejadian sebenarnya tidak begitu. Kemudian ada juga mengenai cermin yang suka mengumumkan siapa yang paling cantik, asal asul tiga biji kacang yang dimiliki Jack, dlsb.

Selain itu sang Penyihir –yang entah mengapa penulis tidak memberitahu pembaca namanya– memiliki karakter yang lucu. Ia sangat sarkastik dan suka menghakimi orang lain terlalu dini. Di bagian awal, seorang ibu menegurnya karena sifatnya ini. Walaupun selalu bersedia membantu orang lain dan banyak akal, dalam hatinya ia menggerutu karena merasa dimanfaatkan. Mungkin ini bisa dimaklumi karena sebenarnya ia ingin istirahat, di samping orang-orang yang dibantunya tidak pernah menunjukkan rasa terima kasih. Berikut ini kutipan (hal 75-76) ketika sang Penyihir duduk di gudang dan melihat ke luar jendela bahwa ada tamu mendekat:
‘Seorang pangeran, pikirnya, karena anak muda itu menunggang kuda. Rakyat jelata biasanya berjalan kaki. Saat anak muda itu mendekat, ia bisa melihat pakaiannya yang terbuat dari satin dan sutra. _Ya_, pikirnya, _seorang pangeran_. Saat si tamu semakin mendekat, ia bisa melihat wajahnya yang congkak dan penuh percaya diri. _Ya_, pikirnya, _pastilah seorang pangeran_.’

Buku ini lebih seperti kumpulan cerita pendek dibanding sebuah novel. Memang ada bab pembuka dan ada bab penutup, tapi benang merahnya tipis. Seandainya ada yang menyelipkan satu atau dua bab tambahan di tengah, pembaca tidak akan tahu. Begitu pula jika bab mengenai kuda bercula satu atau bab mengenai kastil berhantu dibuang, pembaca juga tidak akan tahu. Karena tiap cerita hampir utuh sendirinya, maka bisa dibaca per bab jika tidak punya banyak waktu.

Bacaan ini cocok untuk kamu yang suka cerita fantasi ringan yang dibumbui humor. Buku lain yang sejenis dalam hal bersinggungan dengan dongeng-dongeng dengan ‘twist’ tak terduga baru-baru ini adalah “The Sisters Grimm: Petualangan Detektif Dongeng” oleh Michael Buckley, penerbit Qanita. Salah satu bedanya, “Petualangan Detektif Dongeng” adalah novel [serial], sedangkan “Sang Penyihir Beraksi” lebih mirip kumpulan cerita.

Resensi novel anak

Seks Memang Asyik April 28, 2007

Posted by lensamata in Uncategorized.
add a comment

Maraknya isu seks dan poligami di internet atau media massa sampai
perdebatan tentang rancangan undang-undang pornografi memperlihatkan
bahwa bahasan tentang seks selalu mengundang rasa ingin-tahu manusia.
Apa sih yang menyebabkan manusia sebegitu tertarik dengan seks?

Dalam buku “Mengapa Seks Itu Asyik”, Jared Diamond memperlihatkan bahwa
gejala itu berpangkal pada penyimpangan evolusioner tujuan hubungan seks
pada manusia. Berbeda dengan organisme selebihnya, yang melulu demi
prokreasi, manusia telah memasukkan unsur rekreasi yang mengasyikkan ke
dalam kegiatan seksual mereka. Jadilah manusia satu-satunya spesies yang
membuat seks jadi asyik.

Diamond lebih jauh menunjuk perubahan fisik dan dampak penyimpangan itu
pada tubuh manusia. Misalnya dia perlihatkan bahwa penis lelaki jauh
lebih panjang daripada kebutuhan untuk membuahi, perempuan yang suka
menyembunyikan hari-hari subur mereka, sampai dampak lekuk-lekuk tubuh
perempuan terhadap seks sebagai rekreasi.

Jared Diamond ialah profesor fisiologi, geografi, dan ilmu lingkungan
UCLA. Salah satu bukunya, “Guns, Germs, dan Steel” (1997) menerima
penghargaan Pulitzer. Ia pernah menjadi anggota National Academy of
Sciences di Amerika Serikat.

Buku ini termasuk seri “Science Masters”, rangkaian buku sains populer
tentang garda-depan fisika, biologi, antropologi, neurologi, komputasi
sampai kesehatan. Para ilmuwan yang terlibat dalam serial ini ialah
Richard Leakey, Richard Dawkins, Jared Diamond, Ernst Mayr, Lee Smolin,
Daniel Dennett, Marvin Minsky, Martin Rees, Paul Davies, John Barrow,
dan Daniel Hillis.

Seri Science Master sendiri merupakan upaya bersama penerbitan buku-buku
sains populer lintas-negara yang melibatkan 28 penerbit dan dihimpun
oleh John Brockman. Seri ini digagas oleh Anthony Cheetham dari Orion
Publisher dan John Brockman Inc., bandar naskah di New York. Penerbit
Indonesia yang ikut terlibat dalam upaya ini adalah Penerbit KPG
(Kepustakaan Populer Gramedia).

”Saya iri dengan Jared Diamond karena ia bisa menulis dengan sederhana
namun tetap elegan! Dalam buku ini ia mengulik topik seksualitas manusia
yang selalu saja diminati. Penalarannya yang meyakinkan semestinya
membuat Anda paham mengapa kita berevolusi sehingga menggunakan seks
untuk kesenangan selain untuk mendapat keturunan, sementara sebagian
besar mamalia lain tak memperoleh kenikmatan itu… Buku kecil yang hebat,
karya salah seorang ahli filsafat biologi terkemuka dunia.”
—Roger Short, profesor fisiologi di Monash University Australia.

Mengapa Seks Itu Asyik (Jared Diamond)
(ISBN: 9799100631,Rp35.000, 14 x 20 cm)
http://www.penerbit-kpg.com/