jump to navigation

Buku-Buku Populer Serambi April 10, 2007

Posted by lensamata in Uncategorized.
trackback

Judul Buku : MESSIAH
Penulis : Boris Starling
Penerjemah : Eka Santi Sasono dan Rahmawati Rusli
Penyunting : Eka Santi Sasono
Penerbit : Ufuk Press, Januari 2007
Tebal : 644 halaman

Messiah. Judul yang singkat. Tetapi ketika membacanya,
kita tidak dapat melupakan sengatan yang ditorehkan di
benak kita (dan mungkin juga jantung kita). Boris
Starling, penulis novel kelahiran tahun 1969
menerbitkan Messiah pada waktu berusia 30 tahun,
sebagai debut yang sangat gemilang (1999). Lulusan
Eton College dan Trinity College ini rupanya senang
memakai judul hanya satu kata untuk novelnya. Setelah
Messiah, dia telah menerbitkan novel berjudul Storm,
Vodka, dan Visibility.

Di tangan Starling, Messiah menjadi sebuah thriller
yang bergerak cepat dengan adegan-adegan yang
mengerikan. Sejak awal novel kita telah diperkenalkan
dengan darah, dan darah terus mengalir sampai novel
mencapai akhir.

Novel dibuka dengan 2 pembunuhan yang terjadi secara
berurutan dengan korban Philip Rhodes, pengusaha
katering, dibunuh dengan cara digantung, dan James
Cunningham, seorang uskup, dipukuli dengan brutal
sampai mati.Tidak ada bukti yang ditinggalkan si
pembunuh selain tanda pada mayat berupa lidah yang
dipotong (kemudian dibawa pergi si pembunuh) dan
sendok perak yang dijejalkan dalam mulut korban. Para
korban dibunuh hanya memakai celana dalam.

Sebuah tim segera dibentuk di Scotland Yard, dipimpin
oleh Red Metcalfe, seorang detektif terkenal, untuk
mengusut pembunuhan yang terjadi. Selain dirinya,
dalam tim tersebut terdapat Jez Clifton, Kate
Beauchamp, dan Duncan Warren. Belum mendapat petunjuk
apa-apa, pembunuhan telah terjadi lagi. James Buxton,
seorang tentara dipenggal lehernya. Dugaan semula
bahwa pembunuhan-pembunuhan tersebut kemungkinan
berhubungan dengan perilaku homoseksual segera gugur
begitu pembunuhan terjadi lagi. Bart (Bartholomew)
Miller dibunuh dan dikuliti disusul Matthew Fox,
dikapak sampai mati.

Sebagai detektif yang terkenal karena kemampuannya
memasuki jalan pikiran para pembunuh dan berhasil
menangkap mereka, Red merasa kewalahan.
Sekonyong-konyong dia merasa kemampuannya dirampas
darinya. Si Lidah perak, julukan tim Red untuk sang
pembunuh, berulang kali berhasil mengencundangi Red.

Ada 2 pemikiran Red mengenai pembunuh berantai.
Pertama, semakin banyak membunuh, semakin besar
peluang si pembunuh tertangkap karena meninggalkan
jejak atau bukti atau sesuatu. Kedua, tidak peduli
berapa orang yang telah dibunuh, si pembunuh akan
kembali membunuh kecuali ia berhasil ditangkap. Tetapi
kecuali pemikiran yang kedua, tidak ada jejak atau
bukti yang mereka dapatkan.

Secara tak sengaja, Red menemukan misteri di balik
pembunuhan berantai tersebut. Mungkin jika
memerhatikan nama-nama korban, ada pembaca yang mulai
mengira-ngira. Para korban tewas memang karena nama
mereka! Alasan pembunuhan ditemukan, segala usaha
dikerahkan, tetapi korban tetap berjatuhan.

Atas inisiatif salah satu anggota tim, tersangka si
Lidah Perak akhirnya ditemukan. Red berharap setelah
pembunuh ini tertangkap, dia bisa memperbaiki hidupnya
lagi termasuk hubungannya dengan Susan, istrinya, yang
di ambang kehancuran.

Justru, saat itu, dia mengetahui siapa sebenarnya si
Lidah Perak ini, seperti tesis Red mengenai pembunuh
berantai, ternyata muncul juga “sesuatu” yang
ditinggalkan si pembunuh. Namun, saat itu telah
terlambat untuk Red mencegah usaha pembunuhan yang
memosisikannya sebagai calon korban.

* * *

Starling membagi novelnya dalam 3 bagian besar yang
terdiri atas sejumlah sub bagian. Bagian pertama
terdiri atas sub bagian 1 – 59. Bagian kedua terdiri
atas sub bagian 60 – 115, sedangkan bagian ketiga
terdiri atas sub bagian 116 – 126. Uniknya, ada sub
bagian yang hanya berupa 1 kalimat yaitu sub bagian 74
(halaman 365). Terdapat 14 bab yang menceritakan kisah
masa lalu Red. Ada 6 sub bagian yang merupakan ucapan
si pembunuh, 1 sub bagian tentang pembunuhan yang
dilakukan si Lidah Perak (bab 82), dan 1 sub bagian
yang merupakan interpretasi Starling seputar peristiwa
menjelang penyaliban Yesus.

Oleh penerbit, cerita masa lalu Red ditampilkan
menggunakan “pattern”, sehingga seharusnya bab 24 juga
diberi “pattern” dan bukan bab 58 (halaman 283).

Starling juga mencantumkan tanggal-tanggal dalam
novelnya. Hal ini penting, karena tanggal-tanggal itu
tidak sembarangan dicantumkan. Oleh karena itu, sub
bagian 53 (halaman 263) jelas keliru tanggalnya,
seharusnya tanggal 21 September 1998, bukan tanggal 1
September 1998.

Starling jelas adalah pengarang yang cerdas. Mantan
jurnalis di The Sun dan The Daily Telegraph ini
menghadirkan cerita thriller misteri dengan begitu
cemerlang, memperkenalkan sebuah gagasan yang mungkin
tidak pernah terpikirkan oleh penulis-penulis kaliber
dunia lain. Keseluruhannya terasa sangat mengerikan,
tetapi sekaligus sangat memukau. Teknik penyajian
Starling yang dahsyat akan membuat pembaca terus
terdorong untuk menuntaskan isi buku setebal 644
halaman ini.

Pembunuhan oleh pembunuh yang menyangka dirinya Mesias
jelas-jelas kontradiktif. Tetapi hal itu bisa dipahami
karena selain pembunuhnya sudah pasti seorang psikopat
tulen yang ‘sakit jiwa’ parah, sebetulnya apa yang ia
lakukan tidak lain adalah semacam pembalasan dendam
yang diarahkan untuk menghancurkan Red, tubuh dan
jiwa. Di akhir karyanya, pembunuh ini berharap Red
yang akan bertanggung jawab terhadap semua pembunuhan
yang telah ia lakukan.

Tetapi kita akan membaca, di ujung novel, justru Red
“menegakkan” cerita tentang Mesias pada tempat yang
sebenarnya, sebuah akhir yang gemilang dan jenaka.
Seiring dengan itu Red mengambil keputusan terbesar
dalam hidupnya atas ketakutannya terhadap tesis kedua
yang dia yakini.

Ada beberapa hal yang menarik dibicarakan. Pertama,
soal Paskah. Penulis kiranya agak kurang cermat.
Paskah yang Yesus dan murid-muridnya rayakan di
Yerusalem menjelang penyaliban berbeda dengan Paskah
yang dirayakan umat Kristen saat ini. Paskah yang
pertama dirayakan untuk memperingati bebasnya bangsa
Yahudi dari penindasan di Mesir, sedangkan Paskah saat
ini yang dirayakan umat Kristen adalah untuk merayakan
kebangkitan Yesus Kristus. Paskah yang kedua ini hanya
bisa dirayakan pada hari Minggu.

Jadi, peristiwa Jumat, 9 April 1982 (sub bagian 41),
tidak terjadi pada malam Paskah, tetapi Jumat Agung.
Coba bandingkan dengan ucapan si pembunuh pada halaman
615 (sub bagian 121, baris 6 – 7).

Kedua, perkataan si pembunuh pada Red soal uang 30
ribu paun (halaman 621). Dari mana ia tahu Red
memberikan uang itu pada ayahnya? Sepertinya yang tahu
soal uang yang diberikan pada ayah Red hanya Red dan
ayahnya.

Ketiga yang tidak kurang penting adalah celana dalam
yang dipakai korban pada waktu dibunuh yang dikatakan
dalam novel mengikuti Yesus yang disalibkan hanya
menggunakan cawat. Hal ini sebetulnya kurang tepat
karena diyakini pada waktu disalibkan para korban
(termasuk Yesus) sebenarnya tidak memakai apa-apa.
Kalau dalam gambar atau lukisan Yesus diberi cawat
tentu saja karena masalah kesopanan dan penghormatan.
Selain itu peran yang ada dalam benak si pembunuh
jelas-jelas terbalik mengingat yang memosisikan
dirinya sebagai Mesias adalah si pembunuh, bukan para
korban.

Mungkin bagi sebagian orang hal-hal ini tidak penting.
Tetapi ini adalah sebuah novel misteri, sehingga kalau
kita teliti membaca kita bisa melihat penulis begitu
cermat menabur tanda bagi pembaca untuk menebak siapa
sesungguhnya si pembunuh. Jadi dalam novel seperti ini
hal sekecil apapun merupakan hal yang penting dan
tidak bisa diabaikan.

Hasil terjemahan edisi Indonesia Messiah yang
diterbitkan Ufuk Press ini sesungguhnya sangat enak
dibaca. Tetapi penyunting mesti lebih cermat supaya
tidak terjadi kesalahan seperti penyebutan Bartholomew
yang seorang laki-laki sebagai “Santa” bukannya
“Santo” (hkm.294 dan 295).

Meskipun demikian, secara keseluruhan, novel ini tetap
merupakan novel brilian, cerkas, enak dibaca, dan
sangat memuaskan.

Salam,

Jody
http://jodypojoh.blogdrive.com
26/1/2007 (Revisi 4/4/2007)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: