jump to navigation

Barack Obama: dari Jakarta Menuju Gedung Putih April 16, 2007

Posted by lensamata in sinopsis buku.
trackback

Menerjang Harapan
Dari Jakarta Menuju Gedung Putih
Pengarang: Barack Obama
ISBN: 979-1238-34-4
Ukuran : 15 x 23.5
Format : HC
Hal. : 528 + 16 Colour
Harga : Rp. 99.900,-

THE # 1 NEW YORK TIMES BESTSELLER
http://www.ufukpress.com/modules.php?name=Katalog&op=tampilbuku&bid=34

Barack Obama berhasil meniti tangga sukses menjadi senator kulit hitam kelima dalam sejarah Amerika Serikat, setelah sebelumnya menjadi dosen di Universitas Chicago, senator junior di Negara Bagian Illinios, dan presiden Afrika-Amerika pertama kalinya pada jurnal bergengsi, Havard Law Review, sewaktu ia masih belajar di Universitas Havard. Kini ia adalah salah satu calon kuat wakil Partai Demokrat dalam pemilihan Presiden AS pada 2008.

Obama lahir di Hawaii pada tanggal 4 Agustus 1961, dari pasangan Barack “Hussein” Obama Senior, seorang mahasiswa ekonomi dan penganut Muslim yang taat dari Kenya, dan Ann Dunham, seorang perempuan kulit putih dari Kansas. Kedua orangtuanya bercerai ketika Obama berumur dua tahun. Setelah perceraian itu, ayahnya memutuskan untuk menempuh studi doktoral di Harvard University sebelum akhirnya kembali ke Kenya. Sedangkan, ibunya menikah kembali dengan orang Indonesia yang bernama Lolo Soetoro dan pindah ke Indonesia ketika Obama berumur enam tahun. Ia dan ibunya tinggal di Jakarta selama empat tahun, ia pun pernah menyebut dirinya sebagai Jakarta’s street kid. Barack kembali ke Hawaii seorang diri dan tinggal bersama kakek-neneknya hingga ia menamatkan sekolah menengah atasnya pada 1979.

Pada 1982, Obama mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil di Kenya. Kematian ayahnya begitu memukul dirinya dan membawanya dalam sebuah belenggu. Nyatanya, ia hanya sekali melihat ayahnya sejak kedua orangtuanya bercerai, ketika Barack berusia sepuluh tahun.

Seiring dengan meningkatnya popularitas dirinya secara nasional, Barack menuliskan riwayat dan pandangan hidupnya. Dreams from My Father adalah karya pertamanya, sedangkan buku dalam genggaman Anda ini adalah yang kedua. Dalam buku ini, ia menyampaikan berbagai hal; mulai dari kehidupan pribadinya (satu bab khusus membahas saat ia tinggal di Jakarta), dunia kebijakan, politik, masalah sosial, agama, hingga hubungan internasional. Di tengah-tengah amukan dan serangan publik dunia terhadap ketidakbecusan Bush memimpin Amerika, lahir seorang heal-maker (pemimpin yang merangkul) sekaligus deal-maker (seorang yang mampu menjawab persoalan-persoalan praktis). Ia muncul secara tak terduga dan dalam waktu relatif singkat mampu mengubah peta politik, menumbuhkan harapan dan gairah baru.

Selamat menyelami dunia pikiran Obama!

————-
Kutipan dari buku:
Keluarga kami belum berkecukupan pada tahun-tahun awal itu; angkatan bersenjata Indonesia tidak membayar para letnannya dengan gaji yang besar. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana di pinggiran kota, tanpa pendingin ruangan, kulkas, atau toilet siram. Kami tidak mempunyai mobil—ayah tiri saya mengendarai sebuah sepeda motor, sementara ibu saya naik bus umum lokal setiap pagi ke kedutaan AS, tempatnya bekerja sebagai seorang guru bahasa Inggris. Tak punya uang untuk bersekolah di sekolah internasional yang biasa dimasuki oleh anak-anak ekspatriat, saya bersekolah di sekolah-sekolah Indonesia lokal dan bergaul dengan anak-anak petani, pelayan, penjahit, dan juru tulis.
Sebagai seorang bocah berusia tujuh atau delapan tahun, hal ini tidak terlalu merisaukan saya. Saya ingat tahun-tahun itu sebagai masa yang menyenangkan, penuh dengan petualangan dan misteri—hari-hari mengejar ayam dan berlari menghindari kerbau, malam-malam menonton wayang kulit dan kisah-kisah hantu dan penjual kakilima yang menjajakan gula-gula yang lezat ke rumah kami. Bagaimanapun saya tahu, dibandingkan tetangga kami, hidup kami cukup baik—tidak seperti kebanyakan orang, kami tidak pernah kekurangan makanan.
……………………………………………………………………………………………..
Di sebuah pantai hanya beberapa mil dari tempat pengeboman itulah saya tinggal terakhir kalinya saat saya mengunjungi Bali. Ketika saya memikirkan pulau itu, dan seluruh Indonesia, pikiran saya dipenuhi berbagai kenangan—perasaan lumpur tebal di bawah kaki telanjang ketika saya keluyuran di hamparan sawah; pemandangan saat dini hari di belakang puncak-puncak gunung berapi; panggilan muadzin di malam hari dan bau kayu yang dibakar; tawar-menawar di kios-kios buah di sepanjang jalan; bunyi keras orkestra gamelan, wajah-wajah musisi yang diterangi api. Saya ingin mengajak Michelle dan anak-anak perempuan saya untuk berbagi kenangan hidup saya yang itu, untuk mendaki reruntuhan candi Prambanan peninggalan Hindu yang sudah berusia ribuan tahun atau berenang di sebuah sungai di pebukitan Bali.

———————————————————-

Apa yang tidak dapat saya dukung adalah “sebuah perang yang tolol, perang yang gegabah, perang yang bukan didasari oleh alasan melainkan oleh nafsu, yang bukan didasari oleh prinsip melainkan oleh politik.”

———————————
PUJIAN
“[Barack Obama] adalah politisi langka yang benar-benar mampu menulis tentang dirinya dengan cara yang menarik dan orisinal…Dalam buku ini [dia] berjuang untuk membumikan pemikirannya ihwal kebijakan dalam akal sehat yang sederhana sembari mengartikulasikan gagasan-gagasannya dalam ungkapan yang mudah dipahami dan nonpartisan.”
—Michiko Kakutani, New York Times.

“Obama mampu menceritakan kepekaannya terhadap ironi dan tragedi dalam interaksi sosial, dimensi-dimensi manusiawi dari setiap persoalan yang ditemuinya, dan orang-orang yang bersentuhan dengannya dalam penuturan yang sederhana namun cerdas dan mengalir.”
—Koran Kompas

“Dia adalah salah seorang penulis terbaik yang berhasil memasuki politik modern.”
—Jonathan Alter, Newsweek.com

“Di zaman kita yang penuh kecurangan dan tanpa ruh ini, bakat Obama untuk mengusulkan solusi-solusi yang manusiawi dan masuk-akal dengan ungkapan yang elegan dan meningkatkan semangat dan pemikiran benar-benar memenuhi kita dengan harapan.”
—Michael Kazin, Washington Post

“Obama menggunakan kosakata yang segar dan ringan untuk membersihkan sebagian racun dari perdebatan politik kontemporer..”
—John Balzar, Los Angeles Times

Komentar»

1. boboho - Februari 9, 2008

semoga Obama menjadi Presiden USA….yang tidak bertangan besi, dan memandang negara Islam sebagai negara Teroris….

2. bony - Juni 6, 2008

waouw…
i love this guy…
gw ngefan bngt ma dy kpn ya bisa ktmu ma dy..hee
ayo smua warga as u/vote dy sbg presiden krn ak ykin dy fenomenal bngt…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: