jump to navigation

Tiga Venus April 16, 2007

Posted by lensamata in sinopsis buku.
trackback

Judul Buku : Tiga Venus
Penulis : Clara Ng
Editor : Hetih Rusli
Tebal : 296 hlm; 20 cm
Terbit : Cetakan 1, Maret 2007
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya”.

(To Kill a Mockingbird, Harper Lee)

Syahdan, pada zaman modern ini, di sebuah kompleks perumahan di Jakarta, hiduplah 3 orang perempuan dewasa berusia awal 30. Mereka memiliki 3 kehidupan yang berbeda yang tidak saling berhubungan. Emily, seorang perempuan lajang, direktur sebuah perusahaan perhiasan, tidak suka anak-anak tapi suka kucing, dan tidak bisa masak. Ia memandang pernikahan bukan sebagai institusi romantis, tetapi sebagai merger 2 perusahaan besar. Juli, seorang ibu rumah tangga, bersuami satu (Kevin), beranak 3 (Maretta, Marcello, dan Nico), memiliki usaha katering sebagai tanda jago masak, beribu mertua yang tidak pernah cocok dengannya, dan saat ini hamil lagi. Lies, seorang janda, guru sastra SMU; pembaca ratusan novel; sebelum bercerai dengan Orien, suaminya, dia pernah menjadi sansak bagi kepalan tangan suaminya yang tampan.

Kecuali Lies, 2 perempuan yang lain sepertinya tengah berjalan di jalan hidup yang mereka idamkan. Lies sendiri pernah bercita-cita menjadi bintang terkenal, sayangnya tidak memiliki aura bintang, dan seperti orang tuanya, jadilah Lies seorang guru. Sampai saat ini, Lies belum bisa melupakan Orien, termasuk bogem mentahnya.

Sesungguhnya tidak ada yang terlalu rumit dalam hidup mereka bertiga. Sebagai ibu rumah tangga, wajar kalau Juli harus menghadapi anak-anak yang tengah nakal-nakalnya dan suami yang ogah repot mengawasi anak-anak. Sebagai guru, jamak bagi Lies menghadapi siswa yang kerap keluar dari jalur, dan mengusik ketenangannya ketika kehilangan jalan keluar. Sebagai direktur, lumrah bagi Emily jika harus melayani kerewelan bos.

Hanya, 3 peran yang mereka jalani dalam hidup membuat mereka nyalang pada sebuah dini hari, saat terjadi gerhana bulan, ketika sebuah bintang terpental ke bumi, lalu 3 peristiwa terjadi, dan 3 keinginan tercetus.

Paginya, Lies terbangun sebagai Emily, Emily sebagai Juli, dan Juli sebagai Lies. Mereka bertukar peran, jiwa beralih tubuh.

Demikianlah awal kisah Tiga Venus karya Clara Ng. Selanjutnya sudah bisa diperkirakan apa yang akan terjadi. Ketiga perempuan ini terpaksa harus menjalani kehidupan yang tidak mereka miliki sebelumnya, tidak mereka inginkan. Segera mereka terperangkap dalam kabut kebingungan, kesalahpahaman, dan ketidaktahuan yang melahirkan kelucuan.

Bayangkan saja. Emily yang belum berani berkomitmen dengan seorang laki-laki dan tidak suka anak-anak mendapatkan jiwanya dalam tubuh Juli yang hamil, serumah dengan suami dan anak-anak Juli. Lies yang sederhana harus menjadi direktur perusahaan dalam tubuh Emily, bergaul dengan rekan-rekan Emily, termasuk dengan pria-pria setipe Emily -yang tidur dengan banyak lawan jenis, tapi enggan berkomitmen. Juli sendiri menjadi guru sastra dalam tubuh Lies yang sangat menyukai busana serbagelap, dan bertemu dengan guru matematika yang menyukai Lies, padahal Lies belum ingin membuka diri bagi laki-laki lain.

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya”.

Kalimat yang disitir Clara Ng dari To Kill a Mockingbird ini agaknya yang mencetuskan ide novel ini. Selain Clara memang menyertakan kalimat ini dalam bukunya, Tiga Venus jelas-jelas mengusung ide ‘menyusup ke balik kulit’ seseorang. Sesungguhnya ide menyusup ke balik kulit seperti ini bukan ide yang benar-benar baru. Ide yang sama, meski dalam konteks dan dengan teknik penyajian berbeda, telah dituangkan Andrei Aksana dalam sebuah novel metropop berjudul Pretty Prita. Dan ide dalam Pretty Prita bisa ditelusuri sampai ke kedalaman perfilman Holywood. Ide yang sangat mirip dengan Pretty Prita bisa kita temukan dalam film Switch (1991) yang menampilkan Ellen Barkin dan Jimmy Smits sebagai pemeran utama. Seperti kata Clara (hal. 21) dalam percakapan Lies dan Stevan soal The Da Vinci Code, memang banyak ide di luar sana. Mungkin saja ide seseorang serupa dengan ide orang lain. Wajar. Tapi kalau seorang pengarang memang benar-benar merenggut ide orang lain lalu menyatakan diri
sebagai pemilik ide tersebut, tentu saja tidak bisa dinafikan begitu saja.

Ide menyusup ke balik kulit seseorang berhasil diterjemahkan Clara dalam alur cerita yang menarik dan enak dibaca, dibungkus dengan kalimat-kalimat segar nan kocak, yang akan menerbitkan senyum atau tawa di wajah pembaca. Clara memang seorang penulis yang piawai. Ia sukses mengalirkan kisahnya dengan lancar, tapi tetap terkendali. Hal ini senantiasa tercermin dalam karya-karya Clara, baik yang terkesan ‘normal’ maupun yang aneh. Trilogi Indiana Chronicle (Blues, Lipstick, Bridesmaid) dan Dimsum Terakhir terkesan ‘normal’. Tetapi Tujuh Musim Setahun, The (Un)Reality Show atau Utukki : Sayap Para Dewa terasa aneh dan unik. Tidak hanya ide yang dibentangkan Clara, tetapi juga cara pengungkapannya. Dan meski cara pengungkapan Tiga Venus terkesan normal, jelas ide Clara di sini terbilang aneh bin unik.

Dalam Pretty Prita, ide menyusup ke balik kulit milik Andrei Aksana hanya menimpa satu orang –laki-laki ke perempuan dan berbeda nama- sehingga penggarapannya tidak lebih sulit dibandingkan Tiga Venus yang mengorbankan tiga karakter. Dalam hal ini Clara membutuhkan tingkat ketelitian yang cukup tinggi. Maka, jika ia lengah, tak pelak pembaca akan menemukan kejanggalan. Coba baca hal. 180, ketika Clara menyatakan, “Kemarin malam mereka bertukar ponsel dengan sembunyi-sembunyi seperti para sindikat pencuri mobil hendak beraksi”. Janggal. Yang berpindah tempat jelas hanya jiwa tiga perempuan ini, tidak sekaligus dengan ponsel mereka. Apakah ketika jiwa mereka berpindah tubuh di lokasi berbeda, ponselnya juga ikut pindah sehingga harus dipertukarkan? Baca juga bagian yang menceritakan Juli (dalam tubuh Lies) dan Emily (dalam tubuh Juli) menjenguk murid Lies yang dirawat di rumah sakit. Clara memang tidak menceritakan adegan melawat ke rumah sakit ini, tapi pembaca akan
bertanya-tanya, apa yang terjadi di sana? Juli (dalam tubuh Lies) tidak kenal dan tidak pernah melihat murid itu sebelumnya. Kenapa yang diajak Emily (dalam tubuh Juli) dan bukan Lies (dalam tubuh Emily)? Perhatikan bahwa jika penulis menarasikan kisah tiga “tubuh” perempuan tersebut, ia selalu menggunakan nama “jiwa” di dalam tubuh tersebut.

Meski Clara membentangkan narasinya dengan lancar dan memikat, ada hal yang terasa kurang digarap Clara. Khususnya pengalaman Lies saat menghadapi hari-hari awal di kantor Emily (dengan tubuh Emily) yang berpotensi menimbulkan kekocakan. Mereka bertiga memang membangun komunikasi untuk meminimalkan keanehan yang bisa menerbitkan kecurigaan tokoh-tokoh pelengkap novel, tapi pada kondisi tertentu mereka juga biasa kehilangan kendali. Apa yang terjadi dengan ‘jiwa’ Lies saat mengawali hari-hari awalnya di kantor ketika ada hal-hal yang ditemukannya secara mendadak dan tidak sempat dikomunikasikan ke jiwa ‘Emily’? Hanya diinformasikan begitu saja lewat tuturan Lies. Padahal di bagian lain, dengan porsi yang cukup Clara mengisahkan apa yang dialami ‘jiwa’ Juli dan ‘jiwa’ Emily.

Tetapi ketika membaca Tiga Venus hingga akhir, justru kita akan menemukan jika Lies lah yang mendapatkan manfaat terbesar dari pertukaran jiwa yang dialaminya. Pada akhirnya, ia mendapatkan penyelesaian dari satu masalah kehidupan yang sangat mengganggu ketenteraman hidupnya.

Dalam Tiga Venus, Clara Ng yang juga dikenal sebagai penulis serial buku anak seperti Berbagi Cerita, Berbagi Cinta; Sejuta Warna Pelangi; Stories From the Heart menunjukkan kegemarannya membaca buku seperti Lies. Maka, kita juga akan menemukan serpihan-serpihan kalimat yang dipulung Clara dari berbagai halaman buku. Selain buku To Kill a Mockingbird, juga The Catcher in the Rye, Gone With the Wind, dan The Solitaire Mystery.

Secara keseluruhan bisa disimpulkan bahwa Tiga Venus adalah novel yang memikat, menyentuh, dan mengharukan. Silahkan rasai sendiri hasil upaya Clara, sang sahibulhikayat, yang bak seorang koki meramu keajaiban dan ‘kebiasaan’ dalam adonan gurih kisah yang sarat aroma perempuan ini.

Salam,
Jody
http://jodypojoh.blogdrive.com.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: