jump to navigation

Buyat: Hari Terus Berdenyut April 22, 2007

Posted by lensamata in sinopsis buku.
trackback

Esai foto dan kumpulan puisi oleh Denny Taroreh dan Jamal Rahman
Pengantar: A.S. Laksana

Buyat, Setelah Isu dan Eksodus

Buyat mengingatkan kita pada kabar yang mencekam: sebuah lingkungan tercemar, ikan-ikan mati oleh racun di air laut, dan seorang bayi lahir dan meninggal dalam kondisi mengenaskan. Di sana, sejumlah orang mengidap penyakit; dan sebuah penelitian dikutip untuk menyadarkan orang ramai bahwa lingkungan di Buyat Pante telah dikotori oleh merkuri dan arsen akibat buangan limbah PT Newmont Minahasa Raya.

Situasi memanas sejak itu. Ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan di sana tak laku dijual; orang takut menyantap ikan yang dijaring dari laut beracun. Bencana di Buyat diperbandingkan dengan kesengsaraan orang-orang yang terpapar racun di teluk Minamata, Jepang, tahun 1950-an. Kemarahan publik cepat berkobar karena kenestapaan masyarakat dipertentangkan secara langsung dengan kehadiran sebuah perusahaan multinasional penambang emas. Maka, meminjam istilah yang populer di tahun 1960-an, menjadi jelas sudah mana yang “harus diganyang” dan mana yang harus dibela mati-matian.

Tuding-menuding tentang peracunan lingkungan ini berlanjut ke sidang pengadilan. Ada pihak yang menggugat; ada pihak yang ditahan oleh aparat. Adu pembuktian dilakukan—melalui jalan ilmiah pengujian sampel air laut dan kesaksian-kesaksian. Untuk menghormati hukum, biarlah perkara itu dibereskan di ruang sidang pengadilan.

Di luar kemarahan yang mengeras, di luar urusan tuding-tudingan, ada satu yang hal rasanya pantas dicermati: bagaimanapun, memang ada persoalan besar di sana ketika ada bayi lahir dan meninggal dalam kondisi menyedihkan. Ada kelalaian yang secara langsung atau tidak menyebabkan sejumlah orang mengidap penyakit yang memilukan. Apa pun penyebabnya.

Buku ini, yang memajang sejumlah foto keseharian di Buyat, tak diniatkan untuk berurusan dengan proses hukum yang hingga kini masih berlangsung. Ia hanyalah secuil upaya untuk mewakili ketidakhadiran kita—sebuah ikhtiar untuk meringkus jarak dan mendekatkan kita pada apa yang saat ini berlangsung di tanah yang pernah diributkan. Tentu ada pesan di dalamnya; ada upaya menyampaikan sesuatu melalui gambar-gambar yang disajikan. Dan dalam banyak kesempatan, anda tahu, foto adalah alat yang efektif untuk menyampaikan pesan.

Melalui foto, sebuah fakta diungkapkan—dengan cara yang ringkas, meyakinkan, dan efektif. Foto-foto jurnalistik yang baik memiliki kemampuan ini. Namun, foto-foto amatiran pun seringkali memiliki kemampuan serupa. Ingatlah bagaimana foto-foto “kegiatan privat” para pesohor yang sengaja disebar melalui jaringan internet. Dengan tujuan apa pun foto itu diasongkan, ia mengabarkan kepada kita detail yang terjadi pada orang-orang yang sosoknya muncul di sana. Ia memberi kejutan, menegaskan sesuatu, atau mengklarifikasi gunjingan yang telanjur beredar. Ia pun bisa menjadi senjata untuk bernegosiasi, menekan pihak lain, atau melakukan perlawanan.

Dalam kasus semacam itu, sebuah foto yang diambil oleh seorang amatir mungkin tidak hanya berbicara seribu kata; ia bahkan memiliki kekuatan sebuah bom yang bisa merontokkan karir dan reputasi seseorang. Ada sejumlah ilustrasi untuk kasus ini, mulai dari kalangan artis sampai politisi. Mula-mula sebuah gambar disajikan di hadapan kita, lalu kita menyusun plotnya di kepala kita, membayangkan detail yang terjadi, menggunjingkan gambar itu dengan teman, dan kemudian menanggapinya menurut apa yang kita simpulkan sendiri.

Dalam menghadapi sebuah foto, seringkali kita bahkan bereaksi menurut apa yang diinginkan oleh si pembuat pesan. Untuk yang belakangan ini, anda bisa melihat foto-foto iklan di sekeliling anda: foto-foto yang menyampaikan kepada kita bagaimana cara hidup bahagia dengan membeli benda-benda. Di sanalah, kata pembuat iklan, terletak kunci kebahagiaan hidup anda. Foto-foto propaganda politik juga menyarankan hal yang serupa: ia menawarkan mimpi besar, mungkin ilusi, agar kita mengamini janji-janji besar yang barangkali tidak akan terbuktikan atau menjatuhkan pilihan pada orang yang tidak cakap.

Foto-foto dalam buku ini, menurut pembuatnya, tidak dimaksudkan untuk mendikte anda. Anda pun bebas menikmati foto-foto di dalam buku ini menurut cara anda sendiri. Bisa anda nikmati foto-foto ini di teras rumah sambil bersilang kaki, atau di depan televisi sambil selonjoran mengunyah camilan, atau di ruang kerja sambil mengerutkan jidat. Anda pun berhak menafsirkan foto-foto yang disajikan di buku ini menurut selera anda.

Deni Taroreh dan Jamal Rahman, dua orang yang menerbitkan foto-fotonya dalam buku ini, adalah anak-anak muda yang tersentuh—dan mungkin geram—oleh apa yang terjadi di Buyat. Deni datang dan menembakkan kameranya pada hari ketika warga Buyat melakukan eksodus besar-besaran ke Dominanga, Juni 2005. Tak lama kemudian ia menyajikan kepada kita gambar-gambar dramatis yang terekam oleh kameranya pada saat itu. Orang-orang yang mengangkut barang-barang mereka. Wajah-wajah murung. Rumah yang dibakar. Deni memotret; Jamal menulis puisi. Buku mereka terbit dengan judul Eksodus ke Tanah Harapan.

Beberapa waktu setelah eksodus itu, Jamal dan Deni datang lagi ke Buyat Pante. Mereka memotret lagi. Tidak semua warga Buyat meninggalkan dusun mereka pada hari eksodus; sebagian warga yang eksodus pun beberapa waktu kemudian meninggalkan tanah harapan mereka dan pulang lagi ke tanah semula. Mereka kembali melaut dan merayakan tangkapan besar mereka. Anak-anak kecil bermain-main. Deni dan Jamal mengabadikan momen-momen keseharian itu.

Foto yang baik, anda tahu, akan mampu membangkitkan solidaritas seseorang pada orang lain; ia bisa membangkitkan amarah, bisa juga empati. Ia sanggup menegaskan apa yang semula samar-samar dan mengajak kita untuk peduli pada hal-hal di luar diri kita. Selain itu, ia juga bisa mengingatkan kita untuk waspada pada hasutan dan ancaman.

Ketika diminta membuat pengantar untuk buku ini, saya berharap bisa bertemu dengan Deni dan Jamal. Dan malam itu saya hanya bertemu dengan Jamal. Ia seorang anak muda yang takzim, penuh kepedulian yang romantis, dan memiliki kepekaan terhadap apa yang ia anggap tidak adil bagi orang banyak. “Ada sekitar tiga ribu foto yang kami buat seluruhnya,” kata Jamal.

Tiga ribu gambar. Tiga juta kata—itu jika kita tetap meyakini bahwa sebuah gambar berbicara seribu kata. Karena itu, dibandingkan dengan foto-foto yang akan anda saksikan di halaman-halaman selanjutnya buku ini, hasil seleksi dari tiga ribu gambar, tulisan ini tak ada artinya. Ditulis tepat seribu kata, pengantar ini setara dengan satu gambar saja. Itu pun saya kira gambar yang buram.

Satu gambar seribu kata. Saya cemburu pada fotografer. Seorang fotografer yang cermat saya kira adalah orang yang memiliki kesabaran, ketajaman intuisi, dan nasib baik untuk mengabadikan momen-momen langka. Ia hadir pada saat yang tepat dan memiliki kecerdasan, melalui hasil jepretannya, untuk mengingatkan kita pada kejadian-kejadian yang tak pantas dilupakan. Dengan kameranya, ia mewakili orang lain yang mungkin sibuk dengan urusan sehari-hari sehingga abai pada persoalan-persoalan kemanusiaan yang jaraknya ribuan kilometer. Ia mengajak kita merasakan denyut kehidupan yang terjadi di tempat-tempat jauh.

A.S. Laksana

120 halaman, full colour, hard cover
Harga: Rp 60 ribu, diskon 10%, Jabotabek bebas ongkos kirim

Komentar»

1. Ithoy - April 25, 2007

Tapi Newmont menang…apa kata fotografer buku ini? Saya jadi ingin tau…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: