jump to navigation

Jakarta Undercover: Dari Buku ke Film April 22, 2007

Posted by lensamata in Uncategorized.
trackback

Judul: Jakarta Undercover
Pemain: Luna Maya, Lukman Sardi, Fachri Albar,
Kenshiro Arashi, Christian Sugiono
Skenario: Joko Anwar
Sutradara: Lance
Produksi: Velvet Film, 2006

Di salah satu sudut Jakarta itu malam tak pernah
terbaring. Para penari waria sibuk menegakkan berahi
kaum lelaki. Mereka menyodorkan tubuhnya sembari
menari seksi. House music membungkus malam yang ingar
di sana.

Dari Overlust, klub kaum waria itu, kisah Vikitra
(Luna Maya) bermula. Ia menyamar sebagai waria untuk
membiayai hidupnya. Ia juga membawa adiknya, Ara
(Kenshiro Arashi), bocah autis, di salah satu ruang di
klub itu untuk menunggu. Selesai menari, Viki dan
penari sahabatnya, Amanda (Fachri Albar), barulah
mengajak Ara pulang.

Namun, sebuah drama pembunuhan terjadi di ujung malam.
Seorang waria tewas setelah “digilir” Haryo (Lukman
Sardi), anak seorang pejabat, dan dua kawannya di
ruang privat Overlust. Ara yang bersembunyi di sebuah
lemari di ruang itu menyaksikan drama itu. Setelah
itu, kisah perburuan Ara dan Viki oleh Haryo dan
kawan-kawan pun memenuhi seluruh film.

Di klub-klub diskotek, apalagi klub-klub malam khusus
kaum jetset, memang selalu tersedia ruang-ruang
privat. Ada altar utama tempat para penari menghibur
pengunjung umum, tapi ada juga ruang privat tempat
tamu-tamu khusus bisa memilih penghibur sesuka hati.
Moammar Emka, penulis buku Jakarta Undercover (2003),
menyebut ruang privat itu “ruang para pengorder
cinta”.

Film ini tak hendak menggambarkan upacara-upacara
berahi apa saja yang biasanya terjadi di ruang ini
seperti yang ditulis Emka. Juga, tak ada
keliaran-keliaran lazimnya dunia remang-remang
Jakarta. Jakarta Undercover versi film hanya memetik
secuil suasana di sebuah klub waria dan ruang privat
di dalamnya. Selebihnya tak ada hubungan antara film
ini dan buku Jakarta Undercover yang membuat Emka
kaya-raya itu. “Kami hanya mengambil highlight dari
buku Emka,” kata Erwin Arnada, produser Velvet Film.

Penonton yang berangkat ke bioskop dengan segepok rasa
ingin tahu tentang sudut-sudut gelap Jakarta akan
kecewa. Mereka hanya akan sedikit puas menyaksikan
Luna Maya menari sensual sembari mencopot bajunya. Itu
pun kamera bergerak cepat berpindah-pindah. Tak ada
tarian striptease ala Demi Moore yang binal seperti
dalam film Striptease (1996).

Pilihan warna film, terutama ketika menggambarkan
suasana panggung dan di belakang panggung sebuah klub
malam, juga terkesan kedaluwarsa 20 tahun lalu. Buram.
Untunglah, ketakberanian mengambil warna-warna
mencolok tertutup oleh pergerakan kamera yang dinamis.
Film menjadi hidup, antara lain, karena pilihan
sutradara yang memakai candid camera ini.

Sumbangan terpenting film ini justru datang dari
skenario dan akting beberapa pemain. Skenario Joko
Anwar (sutradara dan penulis skenario Janji Joni)
berhasil melibatkan penonton dalam cerita pelarian
Viki dan Ara. Tensi cerita yang semakin lama semakin
cepat, seperti sebuah film thriller, membuat penonton
segera membela Viki. Penonton diajak berharap agar
Haryo yang memburu ke pelbagai sudut Jakarta—stasiun,
museum, bangunan mal, beberapa jalan raya, hingga ke
rumah prostitusi—itu tak bisa menangkap Viki dan Ara.
Kesaksian Ara harus dijaga sampai keduanya
mengungkapkan kebusukan Haryo dan kawan-kawan.

Akting Lukman Sardi, Verdi Soelaiman, dan Adry Valeri
Wens pun kuat. Lukman benar-benar tampak seperti
begundal sialan. Fachri Albar yang menjadi
Amanda—waria genit, judes, dan protektif—juga amat
natural. Dialah bintang sesungguhnya Overlust.
Sedangkan Luna Maya dan Christian Sugiono? Nama yang
terakhir ini terlihat pas banderol. Luna memang tampil
lebih baik dibanding pada film-film sebelumnya, tapi
masih terasa ia tak cukup merasuk ke dalam peran.

Secara keseluruhan, film yang pernah diputar di
Jakarta International Film Festival tahun lalu ini
enak ditonton. Kali ini tak ada gambar plastik buram
penyamar adegan sensual Luna Maya saat menari yang
dipasang Lembaga Sensor Film pada Jiffest yang lalu.
Adegan yang memakai plastik buram itu benar-benar
telah ludes oleh gunting sensor.

Tapi apakah Anda ingin menyaksikan film ini karena
adegan plastik buram itu atau karena penasaran dengan
tafsir film atas buku Emka? Ini bukan film yang bisa
menambah pengetahuan Anda tentang bagaimana mesti
mengorder cinta.

(Dari Majalah TEMPO Edisi. 05/XXXIIIIII/26 Maret – 01
April 2007)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: