jump to navigation

Agar Penerbitan Tidak Mati Konyol April 10, 2008

Posted by lensamata in Hanya Ide Kecil.
trackback

Kemarin saya baru curhat-curhatan sama seorang pemilik bisnis penerbitan di sebuah kota. Nggak perlu saya kasih tahu kota mana ia tinggal, nanti ia malu. Tapi yang lebih memalukan adalah sebuah fakta bahwa ia dipermalukan oleh toko buku. Bingung kan?

Begini ceritanya. Saat ini, toko buku manapun (mungkin kecuali Karisma atau toko buku-toko buku kecil) dalam kondisi overload. Artinya, jumlah buku sangat banyak sementara daya beli masyarakat ya itu-itu saja. Lantas apa yang terjadi? Yang terjadi adalah, sebuah buku tidak bisa bertahan lama-lama di rak toko buku. Jika buku itu nggak laku, ya langsung di-retur agar toko buku punya rak kosong lagi untuk menampung buku-buku yang baru saja datang. Apa artinya? Dalam bahasa kita, turn over sebuah buku sangat cepat.

Kalau dulu buku bisa bertengger sampai 4 bulan sampai toko buku mereturnya, sekarang paling-paling 2 minggu saja. Kalau pihak toko buku  melihat bahwa dalam jangka waktu 2 minggu tidak ada pergerakan penjualan yang signifikan, ya mau gimana lagi…buku itu harus diretur.

Kebetulan nasib teman saya seperti itu. Bukunya nggak jalan dan harus dibalikin semua. Gigit jari memang iya, tapi keadaan sekarang juga sangat memaksa.

Lha kalau penerbit itu punya modal gede, nggak masalah. Penerbit itu bisa menunggu nasib baik dari toko-toko lain yang bisa jadi memberi laporan menguntungkan sembari penerbit tersebut memproduksi naskah-naskah berikutnya. Tapi pas kebetulan, teman saya itu masih penerbit UKM alias Usaha Kecil Mungil. Tahu bukunya didepak, yang jadi malah stress saja. Inilah repotnya buka usaha penerbitan jaman sekarang. Kalau modalnya kecil dan bukunya biasa-biasa saja, nasibnya tinggal bisa dihitung hari.

Oleh karena itu, saran saya adalah sebagai berikut:

  1. Jangan latah. Kumpulkan modal dulu. Jangan terus kalau orang lain bikin penerbitan, kita terus-terusan panas dan ikut menjajalnya. Tanpa modal besar (plus modal nyali), mengatur duit sama energinya akan sangat kelabakan.
  2. Kalau sudah punya modal besar, buat banyak buku secara serentak. Maksudnya, supaya ada dominasi di rak-rak toko buku dan dilirik oleh pembeli dan juga pihak toko buku. Tahu maksud saya? Bisa bayangkan, bagaimana kalau kita cuma punya 1 buku saja di antara ribuan buku lain yang mengepung? Boro-boro buku kita dibeli. Dilihat saja mungkin sudah untung.
  3. Bikin buku kontroversi terus di-talk show-kan. Tapi kalau modal kita mepet terus bagaimana? Ya sudah, bikin saja buku kontroversi kemudian di-talk show-kan di toko buku. Toko buku manapun pasti senang kalau kita bikin talk show karena memancing orang untuk datang. Dan yang pasti, toko buku nggak bakalan keluar duit. Dengan men-talk show-kan, buku kita bisa dipajang di daftar bestseller walaupun cuman 1 biji!

Tertarik bikin buku kontroversi tapi takut resikonya? Gampang kok. Bikin buku kontroversi tidak harus berbau politik atau agama. Hal-hal sepele juga bisa dikontroversikan. Misalnya saja, buat buku judulnya, “Ternyata Kucing adalah Mahluk Alien”, “Budidaya Ikan Paus”, “Siapa Bilang Jadi Penulis itu Kaya”, “Sudah Saatnya Bangun PLTN di Jakarta”, dan lain sebagainya. Tertarik?

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: