jump to navigation

Ngamen…! April 11, 2008

Posted by lensamata in Hanya Ide Kecil.
trackback

Acapkali, kita harus ngamen. Lho, penulis kok disuruh ngamen. Ini serius lho, nggak main-main. Penulis emang kadang kala harus ngamen kalau pingin bukunya laku. Nggak percaya? Inget dulu Moammar Emka saat harus keluar masuk toko buku untuk talkshow, seminar, mini seminar, jumpa penulis, jumpa darat, atau apa itu namanya…Itu khan sama saja ngamen to!

Bedanya, waktu jualan Jakarta Undercover yang konon menghasilkan royalti sampai 1M itu, Moammar gak nyanyi. Dia cuman ngomong. Tapi pada intinya, dia harus buka mulut biar orang pada mau beli bukunya. Ia harus mau tarik suara agar orang mau memasukkan duit ke dompetnya. Jadi bedanya, pengamen sama penulis itu tidak banyak. Kadang kala, pengamen melengkingkan suaranya. Penulis pun demikian. Kadang kala, pengamen sampai nangis-nangis buat penghayatan. Penulis pun begitu kalau pingin mancing emosi yang mendengarkan ceritanya.

Kembali ke ngamen tadi. Penulis saat ini harus berani ngamen. Ngamen merupakan satu-satunya cara agar si penulis itu muncul di depan publik dan toko buku mau meletakkan buku tersebut di tempat yang terhormat (di rak Bestseller). Bukan rahasia lagi kalau toko buku kerap meretur buku-buku penulis gak ngetop hanya dalam jangka 2 minggu saja sejak buku itu ditulis. Apa sulit ngamen itu? Tidak kok. Toko buku senang kalau ada penulis ngamen karena berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan. Ingat, penulis yang nggak ngetop pun juga punya pasukan lho (keluarga, teman, rekan kerja, sahabat kecil, dll). Penerbit pun senang karena tidak perlu keluar uang untuk pasang iklan di koran tentang buku yang akan diterbitkannya itu karena penulis bisa dusuruh jadi Public Relation untuk bukunya sendiri. Bagaimana dengan honor penulis yang terpaksa ngamen itu? Jangan tanya deh…baik toko buku maupun penerbit nggak bakal kasih honor. Paling-paling cuma snack 1 bungkus dan tepuk tangan meriah.

Lho kok nggak dibayar? Lha kita kan sama-sama berjuang agar buku itu laku, mas. Kalau buku itu laku, khan panjenengan juga yang seneng…begitu kilah penerbit. Kalau kita nodong toko buku, mereka kerap sewot. Lha sudah dikasih tempat gratis, kok minta bayar. Emang situ mau bayarin rekening listrik sama gaji pegawai saya po?

Jadi…kalau mau jadi penulis, jangan ragu untuk ngamen. Mumpung ada banyak pihak yang mau menampilkan Anda di muka umum lho? Jarang-jarang ada yang baik kayak gini…smile_wink

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: